IDENTITAS

**

SHOLAWATAN JAWA ( PUJI – PUJIAN )

Rabu, 20 Oktober 2010




SHOLAWATAN JAWA
( PUJI – PUJIAN )


 










MAKALAH INI DIBUAT GUNA MEMENUHI  TUGAS YANG TERSTUKTUR DARI DOSEN PENGEMPU MATA KULIAH SEJARAH KEBUDAYAAN LOKAL (SKL)

Nama: Abdul Wachid B.s

Di disusun oleh
Nama: Nur Laeli Maulidah
Nim: 072331123
Semester/Fak/PAI: Dua / Tarbiyah / Tiga



SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI ( STAIN )
PURWOKWERTO




  1. PENDAHULUAN
Keadaan masyarakat sekarang ini yang semakin lama semakin akut karna terjangkit oleh penyakit – penyakit perdaban moderen terutama materialisme dan hegemonisme, sehingga kadang suatu kebudayaanya sendiri pun terabaikan bahkan tidak tau sama sekali, padahal kebudayaan khususnya kesenian daerah atau yang sering disebut seni tradisional itu perlu untuk di pelajari dan dijaga kelstarianya  agar kebudayaan itu tidak hilang begitu saja, serta kita tahu makna yang terkandung dari sebuah tradisi  
Konteks tradisi dalam hal ini merupakan suatu hal yang sangat sakral dan seharusnya tidak untuk dilupakan begitu saja karna ada sejuta makna yang tersirat di setiap bait yang ada dalam dimensinya.
Sedikit bangkit tanpa adanya iterperensi lain mencoba utuk mengkaji kembali tradisi yang semakin sepi dari bisingnya telinga, taklagi terlintas seutas kata yang dibalut dengan irama syair  indah yang keluar dari lidah – lidah jawa. Yang mungkin  pada zaman dahulu syair sholawatan jawa atau puji - pujian itu sering kali di kumandangkan  utuk mengingatkan atau mungkin menyinggung orang – orang yang keluar dari koridor agama.


B. TEORI DAN METODE
Hal yang terpenting pada sebuah penafsiran solawatan jawa ialalah sutu bahasa syair yang diindahakan dalam konteks penyampainya agar tidak terlihat monoton dan membosankan, maka sebuah syair mempunyai perhitungan tersendiri yang dilakukan oleh penyairnya, bentuk pemakaian bahasa dalam perspektif tertentu yang menjadi perhatian penyair. oleh sebab itu walaupun bahasa yang dipakai oleh sebuah syi’iran itu memakai bahasa yang digunakan sehari – hari, namun tetap ada sesuatu yang membedakanya atau nilai kepuitisanya tersendiri.
Oleh sebab itu syair atau sholawatan jawa merupakan suatu tindak penyampaian bahasa yang lugas mudah dipahami serata mempunyai makna yang sangat mendalam, syair jawa mempunyai posisi yang tersetruktur dalam penyampaian bahasanya agar mudah untuk dipahami dan di pelajari, dengan begitu bahasa ungkapan sebelum di jadikan bahasa syi’iranpun sudah dipersepsikan sekaligus diposisikan sebagai sistem yang tersusun dan mempunyai symbol – symbol tersendiri (Abdul Wachi B.S 2007)
Sementara itu symbol merupakan salah satu jenis yang bersifat arbitrer dan konvensional, dengan begitu symbol yang ada pada sholawatan jawa itu ekuivalen dari pengertian Fedinand De Saussure  tentang tanda. Didalam bahasa syair, sebagai sistem peningkatan makna terhadap bahasa agar sebuah syair itu bersifat figurative. Kata atau kata – kata pada konteks bahasa syair di persepsi dan diposisikan sebagai lambang atau symbol. Maka pemaknaan syair berarti menafsirkan atau memberikan interpretasi terhadap lambang tau symbol itu.
Demikian juga penafsiran makna dari konsep syair atau sholawatan jawa ini dilakukan dengan memposisikan bahasa yang “Diindahkan“ baik dari aspek etetik maupun etiknya, sebagai sistem komunikasi yang transparan dan mempunyai symbol yang melibatkan tanda. Dalam sistem komunikasi sastra, hal demikian melibatkan penyair yang sebagai pencipta teks – teks dan penyampaianya atau gaya bahasanya.
Bukan sesuatu yang mustahil jika dalam memahami suatu teks itu kadang banyak sekali penafsiran yang berbeda – beda, bahkan perselisihan dalam penafsiran itu, karna banyak hal yang menjadi faktor dalam mendasarinya. Pertama kesalah pahaman dalam penafsiran tu disebabkan oleh kenyataan bahasa yang memiliki medium puisi dan memiliki arti oleh pemakaian bahasa didalam suatu masyarakat. Kedua kesalah pahaman tafsir itu disebabkan oleh kenyataan pemakaian bahasa yang secara tidak langsung. Ketak langsungan itu merupakan ekspresi penggunaan metafora yang menjadi bagian vital dari sistem sastra  yang digunakan sebagai bahasa ungkapan pada sebuah syair jawa(Abdul Wachi B.S 2007).


C. ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN
1.      Analisis
Seiring kemajuan zaman kadang kita melupakan tradisi lama dan lebih mengedepankan tradisi kekinia yang penuh dengan tehnologi yang mutahir, dan tradisi lama yang seharusnya kita pelihara agar tidak musnah dari peradaban, justeru sering terlupakan. solawatan jawa atau sering disebut puji – pujian yang mengandung unsur religi yang sangat kental misalnya, kini hampir tak lagi terngiyang ditelinga, padahal pada zaman dahulu khususnya masyarakat jawa puji – pujian hampir setiap sebelum azan  dikumandangkan, selalu dilantunkan untuk menarik para masyarakat guna sholat berjama’ah. Pada  lingkungan Pesantren khususnya di daerah jawa, solawatan jawa merupan suatu teradisi yang sangat dijaga, walau tidak menutup kemungkinan ada juga yang sedikit melupakanya, tapi belum begitu termarjinalkan.
Unsur religi yang terkandung pada solawatan jawa sangatlah kental, karna disetiap bait – bait syair itu mengandung ajakan, nasehat dan meyakinkan tentang ajaran – ajaran islam yang sesungguyan, bentuk kalimat yang dipakai pada penyampainyapun sangatlah lugas dan mudah dipahami, karna kata – kata yang digunakan merupakan bahasa sehari – hari yang dibalut dengan syair – syair yang sangat indah (M. Nasuha 29 mei 2008).
2.      Pembahasan
Sholawat badar
*sholatullah sallamullah ngala toha rrasulillah
Shalatullah sallanullah ngala yasin habibillah*

Sandangane diganti putih
Iku tandane rabiso mulih
Rabiso mulih……
Tumpaanne kereto dowo
Roda papat rupo menungso

Jujugane umah guo
Tanpa bantal tanpa kolso
Tanpa kloso….
Ditutupi dianjang – anjang
Diurugi disawur kembang

Yen umaeh ora ono lawange
Turu dewe ora ono kancane
Ora ono kancane…
Tonggo – tongo podo nyawang
Podo nangis koyo wong nembang.
Pakaianya diganti putih
Itu tandanya tidak bisa pulang
Tidak bisa pulang…..
Naikannya kereta panjang
Roda empat wajah nanusia

Anteranya rumah gua
Tanpa bantal tanpa tikar
Tanpa tikar….
Ditutupi di susun – susun
Di timbun di sirah kembang

Yang rumahnya tidak ada pintunya
Tidur sendiri tidak ada temanya
Tidak ada temanya….
Tetangga – tetangga pada melihat
Pada menangis seperti orang nyanyi.
Setiap kata pada sholawatan tersebut mempunyai makna atau penafsiran tersendiri yang terkandung didalamnya, sandangane diganti putih ikutandane raiso mulih ,penyair mengingatkan kita bahwa setiap manusia apa bila pakainya sudah diganti kain putih berupa kafan itu sudah tidak bisa pulang kedunia lagi dan musnahlah semua gelamor duniawi, tumpak ane kereto dowo roda papat rupo menungso, dan kendaraan yang dinaiki itu berupa keranda mayat yang di pikul oleh empat orang, itulah yang namanya kendaraan terahir bagi kehidupan manusia.
 jujugane omah guo tanpa bantal tanpa keloso, kita diantarkan kerumah yang gelap gulita yaitu liang lahat, tanpa membawa harta benda apapun, semua itu ditinggalkan kecuali kain kafan yang menempel ditubuh dan amal shaleh, ditutupi dianjang – anjang diurugi disawur kembang, setelah itu jasad kita ditutupi dengan bambu atau semacamnya yang disusun lalu kita ditimbun sedangkan sanak famili atau sahabat hanya menaburkan bunga diatas tumpukan tanah kubur kita.
 yen umaeh raono lawange turu dewe raono kancane, dan didalam kubur itu sangatlah gelap gulita, kita terbaring sendiri tak ada satupun yang menemani kecuali belatung dan cacing tanah yang siap untuk menggrogoti jasad kita, tonggo – tonggo podo yawing podo nangis koyo wong nembang, sedangkan sanak famili kerabat dan para tetangga tidak ada yang bisa mengubah takdir kematian itu keculi hanya memandangi dan menangisi kepergian kita, kehadapan Illahirrobbi yaitu Allah Swt.
Pada dasarnya setiap manusia itu akan mengalami kematian, seharusnya manusia itu tak harus berbangga diri atau takabur dengan apa yang dimiliki sekarang, karna semua itu hanya kesenangan duniawi belaka, dan tidak ada sejengkalpun dari harta benda kita yang dibawa mati kecuali amal shaleh kita, setelah mati jasad ini hanyalah makanan cacimg dan belatung semata jadi keanggunan paras itu tak ada artinya untuk dibanggakan.
Jadi hendaknya kita selalu ingat terhadap kematian agar kita tidak semena –mena dalam menapaki kehidupan ini, itulah ajakan yang disampaikan oleh penyair sholawatan jawa ini.



D. KESIMPULAN

Sholawatan jawa merupakan tradisi lama yang sangat besar maknanya, karna dari sekelumit syair yang keluar merupakan sebuah ajakan kepada kita semua untuk selalu mengingat Tuhan yang Maha Esa, dan senantiasa patuh padanya. Pada zaman dahulu sholawatan jawa merupakan puji – pujian untuk menanti dikumandangkannya azan, jadi tradisi ini dilakukan untuk menarik para masyarakat untuk segera menyelesaikan seluruh aktifitasnya dan langsung berkumpul dimasjid guna melaksanakan sholat berjamaah bersama.
Unsur dari sholawatan jawa merupakan syair – syair Religi agama islam, yang sering disebut oleh masyarakat Jawa dengan nama puji – pujian, setiap bait dari syairnya sangatlah dalam maknanya, kalau kita benar – benar menghayatinya, bahasa syairnya yang sangat sederhana dan memakai bahasa sehari – hari sehingga sholawatan jawa sangat mudah untuk dipahami dan dimengerti makna serta tujuanya.
Seiring berjalanya waktu sholawatan jawa sedikit terkikis, karna genderasi pada masa kini seakan tak pernah menghiraukan tradisi lama, justru lebih mengedepankan trdisi kekinian yang penuh dengan gelamor moderenisasi, tapi pada wilayah pesantren dan msyarakat yang masih ortodok dengan kemajuan zaman sholawatan jawa mungkin masih hidup walau tidak sehidup pada masa dahulu.













DAFTAR PUSTAKA

Wachid B.S, Abdul. 2007.Gandung Cinta, Tafsir Terhadap Puisi A. Mustofa Bisri : Pustaka Pelajar

Nasuha M. 29 Mei 2008. Intervieu Lewat Telfon

www.wikipedia.com Tentang Budaya Dan Tradisi jawa.


0 komentar:

Poskan Komentar